Upaya Menumpas Akar Masalah Banjir di Kota Batik

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id — Seperti ikan kembali ke lubuk itulah kira-kira peribahasa yang tepat terkait apa yang dialami Pekalongan akhir-akhir ini.  Setelah delapan bulan tak direndam banjir, kini Kota Batik kembali terendam banjir. Seiring berjalannya waktu, bukannya dapat teratasi malah menjadi bencana yang rutin setiap tahunnya dengan dampak yang semakin meluas. Lantas sebenarnya banjir seperti apakah yang menyebabkan Pekalongan terendam setiap tahunnya?

Ketika berbicara banjir ada dua pilihan mengategorikan banjir tersebut kedalam bencana alam murni atau bencana alam dengan ulah manusia. Banyak orang berpendapatan bahwa banjir adalah bencana alam dan ada juga orang yang mengatakan banjir adalah bencana perpaduan antara alam dengan ulah manusia.

Orang yang berpendapat bahwa banjir disebabkan oleh alam boleh membenarkan pendapatnya karena di UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana banjir dikategorikan bencana alam seperti naiknya volume air akibat curah hujan yang diatas normal, perubahan suhu, tanggul atau bendungan yang jebol hingga pencairan salju yang begitu cepat. Dari fenomena alam tersebut dapat terlihat bahwa faktor alam menjadi penyebab utama terjadinya banjir.

Pada dasarnya penyebab banjir tidak serta merta oleh faktor alam saja. Perilaku manusia juga menjadi hal yang sangat memungkinkan terjadinya banjir. Seperti halnya penebangan liar yang mematikan drainase dan penumpukan sampah yang terjadi di aliran sungai sehingga mengalami penyumbatan bahkan pendangkalan. Dari fenomena tersebut dapat dibenarkan bahwa banjir bukan hanya disebabkan oleh alam melainkan manusia juga memiliki peran pendukung di dalamnya.

Bencana banjir yang terjadi di Pekalongan termasuk bencana banjir yang disebabkan murni bencana alam dan akibat ulah manusia. Banyak berita simpang siur yang mengungkapkan bahwa banjir di Pekalongan disebabkan alih fungsi lahan yang dijadikan untuk  jalan tol Pemalang-Batang sehingga berkurangnya daerah resapan air seperti sawah, kebun, dan rawa. Namun, pandangan sebaliknya disampaikan oleh Wakil Bupati Pekalongan Arini Harimurti yang menyebutkan bahwa banjir yang terjadi di sebagian wilayahnya bukan disebabkan oleh adanya jalan tol, melainkan curah hujan yang tinggi dan lama sehingga menyebabkan air sungai meluap.

Pendapat Wakil Bupati Pekalongan Arini Harimurti dibenarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer, terpantau masih terdapat aliran massa udara basah dari Samudra Hindia yang masuk ke wilayah Jawa, Kalimantan, Bali, NTB hingga NTT. Bersamaan dengan itu, masih kuatnya Monsun Dingin Asia beserta hangatnya suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia menyebabkan tingkat penguapan dan pertumbuhan awan cukup tinggi. Dari pantauan gerak angin, terdeteksi oleh BMKG terkait adanya daerah pertemuan angin yang konsisten dalam beberapa hari memanjang dari wilayah Sumatera bagian Selatan, Laut Jawa, Jawa Timur, Bali, hingga NTB dan NTT sehingga wilayah-wilayah tersebut mengalami hujan lebat sejak akhir Januari kemarin. Terlebih lagi daerah Pekalongan terletak di pesisir Laut Jawa yang pastinya akan mengalami hujan lebat.

Sumber : foto.tempo.co

Selain adanya hujan lebat, penyebab banjir di Pekalongan juga disebabkan karena kondisi topografi yang ‘mendukung untuk terjadinya banjir’. Seperti Land Subsidence atau lebih dikenal dengan penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah yang berlebihan oleh masyarakat sekitar. Pengambilan air tanah yang berlebihan menyebabkan topografi atau kondisi permukaan tanah di Pekalongan tiap tahun turun bahkan sampai ketinggian dibawah permukaan air laut untuk wilayah pesisir

Kemudian faktor lain adalah sampah yang menumpuk di berbagai daerah aliran sungai. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Pekalongan, sampah yang dapat diangkut dari setiap sungai di Pekalongan bisa satu truk dalam sehari. Dengan tersumbatnya aliran air maka sangat mudah bagi air untuk meluap ke daratan sekaligus menggenangi pemukiman. Seperti yang terjadi di beberapa sungai Pekalongan diantaranya sungai Lohji, sungai Meduri, dan sungai Sengkarang. Tidak asing lagi bahwa sampah adalah masalah bagi semua orang bahkan alam juga merasakan hal ini. Alam sangatlah sensitif dengan aktivitas manusia yang merugikan seperti membuang sampah sembarangan. Pada hakikatnya manusia hidup bergantung pada alam. Jika merusak alam, maka sederhana saja manusia akan hidup dalam bencana.

Memang bila direnungkan, bencana banjir ini rutin terjadi sehingga menjadi sebuah paradoks. Bagaimana mungkin bencana ini dibiarkan berlangsung rutin? Bukankah itu seperti membiarkan seekor keledai terperosok lubang yang sama berulang-ulang? Lantas apakah tidak ada keseriusan dalam mengatasi bencana ini?

Sebenarnya dalam menangani permasalahan banjir yang setiap tahunnya datang pemerintah Pekalongan sudah melakukan banyak hal untuk mencegahnya, seperti melakukan normalisasi sungai-sungai yang ada di Pekalongan, membuat tanggul sungai maupun pemisah wilayah daratan dan tambak, memasang jaring di sungai agar sampah tidak hanyut ke muara, membuat longstorage atau saluran gendong sejajar dengan tanggul pemisah ROB, pengadaan rumah pompa untuk mengatur aliran air dalam longstorage secara periodik.

Akan tetapi semua hal yang dilakukan pemerintah tidak berarti apa-apa ketika masyarakat tidak terlibat dalam upaya pencegahan banjir di Pekalongan malahan terdapat kasus di sungai Meduri banyak jaring-jaring yang fungsinya menghambat sampah, hilang tanpa jejak. Sangat diperlukan perilaku masyarakat yang mendukung dan berkontribusi terhadap semua upaya yang dilakukan pemerintah seperti menjaga semua alat-alat yang diperuntukkan untuk mencegah banjir, tidak membuang sampah di sungai, melakukan pembatasan penggunaan air tanah, sehingga land subsidence tidak semakin parah.

Banjir yang melanda Pekalongan bukanlah bencana yang pencegahannya hanya memperbaiki alamnya saja akan tetapi mencakup perilaku manusianya juga. Tentunya mengurus perilaku manusia tidaklah mudah dan perlu waktu untuk mengubah perilaku manusia yang buruk menjadi perilaku yang positif sesuai norma.

Pada akhirnya semua harus sadar bahwa alam akan membantu jika kita menggunakannya dengan bijak, sebaliknya alam akan marah ketika kita memperlakukannya sewenang-wenang. Karena pada dasarnya manusia tidak bisa menguasai alam, manusia hanya bisa bersanding dengan alam.

Taufik Hidayat

(Karya Magang LPM Gema Keadilan)

 

Sumber:

http://rri.co.id/semarang/post/berita/628695/bencana_alam/curah_hujan_tinggi_penyebab_banjir_di_pekalongan.html

https://www.bmkg.go.id/berita/?p=waspada-hujan-lebat-akhir-januari-2019&lang=ID&s=detil

Sumber Foto :

https://foto.tempo.co/read/70016/banjir-pekalongan-berangsur-surut#foto-1