Nostalgia Rasa Limun, Minuman Zaman Dulu yang Hampir Punah

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id – Sebagai generasi milenial, tentu sedikit terdengar asing ketika mendengar istilah limun. Limun merupakan minuman berkarbonasi yang sempat hits pada era-nya. Limun sendiri merupakan hasil campuran air sari buah, asam fitrat, dan uap dari racikan CO2. Namun seiring perkembangan zaman minuman limun tak mampu bersaing dengan produk-produk bersoda modern karena faktor kemajuan alat produksi dan tekanan harga jual. Anak-anak muda pun cenderung memilih produk yang lebih baru dengan iklan yang menarik pula, sehingga minuman limun ini kalah saing di pasaran.

Untuk mengobati rasa kangen atau bahkan penasaran akan limun, terdapat satu pabrik pembuatan limun yang berada di kota Pekalongan. Pada pabrik tersebut, juga tersedia kafe di bagian teras depan yang menjual berbagai olahan limun. Kafe pada pabrik yang berlokasi di Jalan Rajawali Utara Nomor 15 ini ternyata bernuansa vintage sehingga memberikan atmosfer yang berbeda kepada pengunjung. Nuansa vintage di kafe ini didukung oleh adanya perabotan-perabotan zaman dulu seperti telepon antik, mesin ketik jadul, setrika kuno, dan meja kursi yang menambah kesan kehidupan zaman dahulu.

Sumber : Dokumen penulis

Tempat tersebut diberi nama Pabrik Limun Oriental yang didirikan pada tahun 1923 oleh Njo Giok Liem. Produksi limun beruapnya kemudian diberi merk Cap Nyonya. Dalam perjalanan produksinya, banyak terjadi pasang surut. Produksi limun pernah mengalami masa keemasan dimana masyarakat menjadikan limun sebagai minuman populer. Namun, seiring berkembangnya teknologi minuman limun mulai kalah bersaing dengan produk minuman lain yang lebih modern.

Tahun 1970-an disebut sebagai masa kejayaan Limun Cap Nyonya.  Puluhan karyawan pabrik pernah dikerahkan untuk memproduksi seratus hingga tiga ratus kerat dalam sehari (satu kerat sama dengan 24 botol). Angka produksi yang terbilang sangat besar untuk pabrik rumahan kala itu. Logo yang mereka gunakan dan varian rasa juga beberapa kali mengalami perubahan dari generasi ke generasi dengan maksud supaya terus menarik perhatian pembelinya.

Kepopuleran minuman limun tidak bisa bertahan lama. Memasuki era tahun 1990-an bisa dibilang merupakan masa tersulit bagi Pabrik Limun Oriental. Peredaran minuman bersoda modern di pasaran mulai menggeser popularitas limun. Minuman bersoda modern yang lebih menarik melalui cara promosinya, membuat masyarakat mulai perlahan meninggalkan limun.

Berkurangnya peminat limun tidak menjadikan Pabrik Limun Oriental ini tutup. Generasi penerus produksi limun kala itu berpandangan bahwa minuman limun merupakan salah satu aset yang perlu dilestarikan. Jika tidak berkukuh dengan pelestarian warisan leluhur, mungkin saja penerusnya akan lengah dan menyerah. Pada awal tahun 2000-an, Njo Kiem Nio atau akrab disapa Anna sebagai generasi keempat dibantu oleh anak-anaknya berhasil bangkit dengan strategi pemasaran baru, namun tetap mempertahankan rasa serta kualitas limun seperti sediakala.

Varian rasa dari masing-masing warna limun oriental juga beragam. Warna merah memiliki rasa framboze, warna oranye memiliki rasa jeruk, warna coklat memiliki rasa seperti mocha, walaupun terbuat dari bahan kurma.  Sedangkan rasa sirsak berwarna hijau muda, rasa lemon berwarna hijau tua, dan rasa nanas memilliki warna kuning keemasan. Terakhir ada limun soda tawar sebagai pelengkap minuman soda gembira. Untuk satu botol limun oriental dijual dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp7.000,00. Selain menjual limun, di sana juga dijual makanan-makanan ringan seperti arem-arem, lemper, usus goreng, kacang-kacangan, dan tahu sakura.

Minuman limun tentu saja menjadi aset legendaris yang perlu dijaga. Mengikuti perkembangan zaman boleh, asalkan jangan sampai meninggalkan warisan leluhur yang telah ada sejak zaman dahulu. Apabila berkunjung ke Pekalongan, tidak ada salahnya untuk mencoba kenikmatan dan kesegaran akan minuman limun karena dengan membeli minuman limun sudah mengambil peran penting dalam mempertahankannya sehingga kelak dapat dinikmati setiap generasi yang akan datang.

Qonita Kumala Dewi

(Magang LPM Gema Keadilan)

 

Sumber :

Segarnya Limun Oriental, Minuman Jadoel Pekalongan