Mencegah “Hoax” Menjamur di Media Sosial

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id– Media sosial (medsos) tidak asing lagi bagi kaum muda, keberadaannya pun dapat dengan mudah dijangkau dari mana saja. Hanya dengan koneksi internet semua orang bisa mengaksesnya.

Berbicara tentang media sosial, tentu semua sepakat bahwa berbagai aplikasi media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram dan lainnya kini semakin mengalami perkembangan yang pesat dan membuat penggunanya semakin mudah untuk dapat mengakses informasi yang beraneka ragam.

Kemajuan teknologi membuat arus penyebaran informasi di media sosial semakin cepat. Fenomena ini berdampak pada semakin minimnya penyaringan informasi yang diterima oleh penggunanya. Oleh karena itu, tak heran apabila saat ini banyak beredar informasi palsu atau biasa disebut “hoax”.

Penyebaran  hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan ke pihak tertentu. Isinya pun biasanya diambil dari berita media resmi, hanya diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat berita palsu tersebut.

Ketika sebuah informasi hoax tersebut diterima dengan kurang bijak, maka tak aneh bila membuatnya semakin mudah tersebar. Oleh karenanya, mulai dari generasi muda hingga dewasa harus lebih berhati-hati dalam menggunakan dan menerima informasi yang beredar di media sosial.

Kanit V Subdit III Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKBP Purnomo mengingatkan agar generasi muda tidak sembarangan membagikan sesuatu di internet, misalnya informasi menyinggung orang lain.

“Menyebarkan atau memberikan informasi buruk di internet bisa terancaman pidana pasal 310 dan 311 KUHP dan Undang-Undang ITE. Cek dulu informasi yang ingin disebarkan, apa dapat merugikan orang lain, jangan sampai bersinggungan dengan hukum.” ujarnya.

Salah satu peran yang dilakukan dalam pencegahan dan menanggulangi berita hoax, dengan membiasakan membaca (berliterasi). Literasi media adalah perspektif yang dapat digunakan ketika berhubungan dengan media agar dapat menginterpretasikan suatu pesan yang disampaikan oleh pembuat berita. Orang cenderung membangun sebuah perspektif melalui struktur pengetahuan yang sudah terkonstruksi dalam kemampuan menggunakan informasi. Selain itu, dalam pengertian lainnya yaitu kemampuan untuk mengevaluasi dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai format termasuk tertulis maupun tidak tertulis.

Dalam menerima sebuah informasi, alangkah baiknya kita tidak langsung percaya apalagi terprovokasi oleh informasi tersebut. Kita harus mengecek dan meneliti kredibilitas dari sumber informasi tersebut, kemudian melihat dari berbagai perspektif dan sudut pandang agar menghasilkan opini yang tepat dan tidak mudah terprovokasi oleh suatu informasi secara mentah. Kita semua harus bijak dalam memilah dan memilih setiap informasi yang diterima agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dalam bersikap dan bertindak harus memiliki filter atau penyaring dalam menerima setiap informasi. Sikap ini harus ditanamkan dalam diri kita. Karena setiap perubahan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian bisa memengaruhi orang banyak.

Kita sebagai manusia yang berbudi luhur dan baik harus lebih berhati-hati dalam menerima pesan atau informasi yang beredar dalam media sosial. Ada baiknya jika kita lebih menyaring informasi-informasi terlebih dahulu agar bisa dibuktikan kebenarannya. Janganlah kita menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial, karena jika kita mudah percaya dengan berita hoax yang mereka sebarkan, tentu hal tersebut akan merugikan banyak orang. Hoax adalah musuh kita bersama, mari selalu waspada dan laporkan jika keberadaannya nyata kita temui. Jangan mudah pula membagi atau menginformasikan berita yang belum jelas sumbernya.

Nabilah Almaidah Deizi
Magang LPM Gema Keadilan

Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/08020091/cara-cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial

Sumber gambar : https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38547449