De Tjolomadoe: Pabrik Gula Terbengkalai Kini Menjadi Tujuan Wisata

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id— Pada bulan Maret 2018, terdapat tempat wisata yang baru resmi dibuka, De Tjolomandoe namanya. Tempat ini dahulu merupakan pabrik gula. Namun kini tidak beroperasi lagi dan dijadikan sebagai museum. Museum ini beralamat di Jl.Adi Sucipto No.1, Karanganyar.

Museum ini dahulu bernama Pabrik Gula Colomadu, penamaan “colomadu” ini memiliki arti gunung madu. Pabrik ini didirikan oleh Mangkunegara IV pada tahun 1861. Awalnya, Mangkunegara IV meminta persetujuan Residen Belanda di Surakarta untuk mendirikan pabrik tersebut. Kemudian setelah mendapat persetujuan, pembangunan pabrik tersebut dilaksanakan. Bangunan pabrik tersebut dibangun oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama R. Kampf. Pemilihan lokasinya yang berada di Desa Krambilan, Distrik Malang Jiwan, sebelah utara Kartasura karena tempat ini memiliki luas tanah dan persediaan air yang mencukupi untuk kegiatan operasional pabrik ini. Nantinya setelah pabrik ini berdiri, R. Kampf yang menjadi administratornya. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan pabrik ini berasal dari hasil perkebunan Mangkunegaran.

Pada1860-an industri perkebunan tebu menjadi usaha yang menjanjikan, karena saat itu gula menjadi produk yang sangat dibutuhkan oleh pasar di dalam maupun luar negeri sebagai salah satu bahan makanan pokok. Kemudian di tahun 1862, Pabrik Gula Colomadu mulai beroperasi.

Bila saat ini kita berkunjung ke museum ini, kita dapat menemukan beberapa foto dan kisah mengenai pabrik tersebut, mulai dari berdirinya, terbengkalainya hingga tidak beroperasinya pabrik tersebut. Informasi tersebut disajikan dalam bentuk infografis. Selain itu terdapat pula benda-benda yang digunakan saat pabrik gula tersebut masih beroperasi, seperti terdapat mesin ketik lawas, telepon, buku pembukuan pabrik, nota-nota pembelian, dan lain sebagainya. Hingga saat ini benda-benda peninggalan pabrik tersebut masih sangat terawat.

Tidak melulu mengenai hal bersejarah, di tempat ini terdapat pula hal yang berbau modern, yaitu ruangan yang di dalamnya terdapat benda-benda yang dapat menyala saat gelap atau sering disebut Glow In The Dark Room. Di sini juga terdapat ruangan yang berisikan proyeksi-proyeksi gambar, sehingga saat pengunjung masuk atau berfoto akan terdapat gambar-gambar dari proyeksi tersebut di tubuh mereka. Keunikan lainnya dari museum ini yaitu terdapat sebuah akar pohon yang menembus dinding museum.

Museum ini pun telah di lengkapi dengan fasilitas-fasilitas umum di dalamnya guna kenyamanan pengunjung, seperti terdapat coffee shop di tengah-tengah museum, cafetaria di bagian belakang museum, dan musala di samping museum. Sehingga membuat museum ini tidak membosankan untuk dijelajahi.

Pengunjung hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp. 25.000 untuk masuk ke museum ini. Tiket tersebut dapat diperoleh di sebuah bangunan yang bertuliskan Geola. Harga tersebut terkesan murah karena setimpal dengan apa yang disuguhkan oleh museum ini, ditambah lagi pengunjung akan mendapatkan air mineral secara gratis yang dapat ditukarkan di kantin Gedung De Tjolomadoe.

Gayatri Dyah Rahmandita

Sumber :

De Tjolomadoe, Pabrik Gula Berusia Ratusan Tahun yang Kini Jadi Destinasi Wisata Hits di Solo

https://m.liputan6.com/citizen6/read/3411989/20-tahun-terbengkalai-pabrik-gula-colomadu-kini-jadi-destinasi-wisata-sejarah