Seksisme Dalam Dunia Olahraga

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id – Ketidaksamaan gender atau yang dikenal sebagai Gender Inequality ternyata tidak hanya terjadi dalam dunia politik, bisnis, sosial dan budaya saja, namun juga terjadi hampir di semua bidang, termasuk dalam dunia olahraga. Sebuah laporan yang baru saja dirilis Women in Sport mengungkap sebanyak 40 persen wanita di dunia masih mengalami diskriminasi gender dalam industri olahraga. Laporan penelitian berjudul “Beyond 30 percent – Workplace Culture in Sport” ini secara detail mengungkap sejauh mana perempuan bisa bertahan dalam karir olahraganya. Laporan tersebut ditulis berdasarkan survei yang telah dilakukan terhadap 1.152 wanita dan pria yang bekerja di bidang olahraga. Hasil survei tersebut menunjukkan 38 persen perempuan mengalami diskriminasi gender di tempat kerja mereka. Sementara  40 persen wanita merasa jenis kelamin mereka punya dampak negatif pada cara mereka dihargai orang lain di tempat kerja yang berhubungan dengan olahraga.

Banyak perempuan percaya bahwa dirinya dibayar lebih rendah untuk melakukan pekerjaan yang sama dilakukan oleh pria dan menghadapi lebih banyak tantangan untuk berkembang. Selain itu, kaum perempuan juga merasa tidak dinilai secara adil. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Perasaan dinilai tidak adil itu tercipta karena adanya kesenjangan yang jelas dalam hal bagaimana perasaan perempuan dan laki-laki di tempat kerja dan bukti diskriminasinya. Bukti jelasnya adalah dalam ketimpangan pendapatan atlet. Lebih dari 70 persen petenis top laki-laki yang tercantum dalam daftar 200 petenis teratas dunia berpenghasilan lebih tinggi ketimbang petenis perempuan di daftar yang sama. Di sepakbola, atlet laki-laki yang memenangkan piala dunia berhak memperoleh hadiah uang 28,6 juta dolar AS, sementara atlet perempuan hanya menerima 820.000 dolar AS saja.

Memang benar adanya, semua pendapatan itu dipengaruhi oleh sponsor. Dunia olahraga professional memang tidak pernah lepas dari sponsor. Bagi sponsor memang uang yang diberikan kepada atlet yang disponsorinya haruslah menguntungkan dan mendatangkan hasil yang lebih besar. Tidak dapat dipungkiri bahwa cabang olahraga seperti sepak bola, basket, golf dan tennis memfokuskan pada atlet pria karena akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari uang sponsornya. Tidak hanya sponsor, ternyata media seperti TV memang tidak dipungkiri lebih berminat untuk memberitakan dan menyiarkan pertandingan atlet pria jika dibandingkan dengan atlet wanita untuk mendapatkan uang iklan dari sponsor pertandingan. Di samping itu banyak juga orang yang beranggapan bahwa olahraga adalah dunia kaum pria. Hal ini dicerminkan dengan jumlah penonton yang lebih banyak pada ajang olahraga pria dibandingkan dengan ajang olahraga wanita.

Dengan mencermati bentuk mobilitas dan peranan perempuan dalam olahraga maka pemberian status sosial kepada perempuan berolahraga hendaknya mampu disesuaikan dengan porsi proses yang telah dilakukannya. Hal ini mungkin berdampak kepada proses menghilangkan perbedaan pemberian penghargaan diantara atlet pria dan perempuan yang sama-sama menjadi juara di kelompoknya (gender). Seperti contohnya yang masih sering terjadi di dunia olahraga adalah sejumlah hadiah yang masih dibedakan diberikan antara kelompok putra dengan putri. Pertimbangannya adalah pertandingan putra sering memperlihatkan tindakan yang lebih akrobatik, atraktif, serta skill tinggi jika dibandingkan dengan kelompok putri sehingga akan lebih menarik, banyak penonton dan secara otomatis pemasukan keuntungan dari penjualan karcis pun akan lebih besar.

Terlepas dari itu, status perempuan berolahraga memang masih menempati porsi lebih rendah dari kaum pria. Hal tersebut bisa dikatakan karena wanita kalah “start”. Semenjak zaman Yunani dan Romawi, sebagai perintis olahraga modern, wanita belum memperoleh kesempatan yang luas dibandingkan pria, bahkan dilarangnya berpartisipasi meski sebenarnya telah memiliki kemampuan yang sama dengan pria. Meski saat ini partisipasi olahraga perempuan telah meningkat, diskriminasi masih terlihat dengan jelas. Kita dapat melihatnya secara nyata pada penggunaan fasilitas, program yang tersedia dan pengurus yang ditugaskan untuk kegiatan olahraga wanita. Hal ini juga terjadi untuk tingkat olahraga amatir nasional. Selain itu, adanya kepercayaan bahwa partisipasi olahraga menyebabkan efek fisik yang berbahaya bagi wanita juga menjadi faktor penghambat. Faktor-faktor tersebut menimbulkan argumentasi bahwa wanita tidak bisa tampil lebih baik dari pria. Hal ini sangat menghambat karena akan membatasi peluang, sehingga membatasi wanita untuk membangun kemampuannya.

Banyak kalangan yang kini mulai menyadari bahwa ketimpangan penghargaan antara atlet pria dan wanita ini seharusnya tidak terjadi. Kalaupun memang dibedakan selayaknya perbedaan itu tidak terlalu jauh seperti yang terjadi saat ini. Akankah ada perubahan? Selama dunia olahraga professional masih terkait erat dengan dunia bisnis, maka tampaknya upaya untuk menghilangkan bias gender penghargaan kepada atlet pria dan wanita akan memerlukan waktu yang lama. Ini bukan tentang pria versus wanita, tetapi kemajuan, peluang dan lingkungan kerja yang lebih baik untuk semua. Pria dan wanita perlu menjadi bagian dari solusi dengan keterlibatan secara positif agar nantinya tidak ada lagi diskriminasi gender.

Adita Lembana

Sumber :

https://www.womeninsport.org/research-advice-service/research-and-insight/beyond-30-workplace-culture-in-sport-report/

https://tirto.id/seksisme-di-dunia-olahraga-sebabkan-ketimpangan-pendapatan-atlet-c5l

Sumber Foto :

https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20150122114209-178-26470/perdebatan-gender-di-dunia-olahraga