Lunturnya Kearifan Luhur

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id – Kembali menyisiri deretan daratan panjang di negeri ini dari Sabang hingga ujung Mereuke. Begitu banyak terlihat suku-suku yang bertebaran di sepanjang pulau-pulau Indonesia. Begitu banyak corak, warna, dan ragam budaya yang apabila ditelisik lebih jauh perbedaan tersebut merupakan anugerah untuk bangsa ini. Selayaknya Tuhan menetesankan “Embun Surga” ke negeri ini sehingga insan-insan yang ada di dalamnya mempunyai pribadi dan tutur yang luhur.

Mungkin juga perlu kembali menengok kawan-kawan kita yang berada di seberang pulau sana dengan bahasa, budaya, dan fisik yang berbeda dengan kita. Namun jawaban yang mereka berikan ketika ditanya, “Apa bangsamu?” mereka serempak menjawab, “Indonesia”. Jawaban yang sama dengan kita, menembus batas perbedaan demi satu tujuan, demi Indonesia yang utuh dan jauh dari perpecahan.

Namun semakin kita mendalami dan memahami anugrah kebhinekaan yang bangsa ini miliki, malah semakin miris terasa di hati apabila kita melihat gejolak yang akhir-akhir ini terus-menerus terjadi di masyarakat kita. Persekusi oleh sebagian besar manusia yang merasa dirinya paling benar, hingga diskriminasi atas nama agama yang bertujuan melemahkan agama lain. Masih terasa di ingatan ketika budaya luar yang masuk ke negeri ini digandrungi oleh para kawula muda, ada beberapa sosok orang tua yang tidak menyetujui dan melakukan somasi dengan menggalang petisi untuk menghapus budaya tersebut yang hadir berbentuk konten iklan, dan akhirnya menimbulkan kata-kata yang sekarang ini sedang viral yaitu “Sekedar Mengingatkan” dengan segala plesetannya. Bukan masalah mendukung atau menolak budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diberikan leluhur bangsa, namun bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Ketika dirasakan bahwa memang budaya tersebut dapat mempengaruhi keburukan yang berdampak ke keluarga kita, maka kita sebagai anggota keluarga dapat dikatakan sebagai benteng pelindung dan pengayom yang paling efektif. Bersikap bijak dengan memberi nasihat-nasihat ataupun tindakan pencegahan lainnya.

Apabila semua orang harus dipaksakan untuk sesuai dengan syariat yang dipakai oleh suatu kaum mayoritas pemeluknya, tentu bukan hal yang arif. Semua orang yang beragama pasti tujuannya ialah mengharap janji surga yang telah dijanjikan Tuhannya diibaratkan seorang siswa yang hendak sekolah ketika mereka berangkat dari rumah ada yang berjalan kaki, diantar dengan berbagai macam kendaraan hingga naik transportasi umum, semua pun punya cara yang berbeda-beda. Namun tempat tujuannya tetap satu, “Sekolah”. Begitulah kita beragama, ada berbagai tata cara peribadatan yang berbeda sesuai dogma yang diajarkan di kitab suci masing-masing. Namun berbagai bentuk tata cara ibadahnya, tujuannya tetap satu, berharap surga dari Yang Maha Esa.

Kearifan dan kebijaksanaan menyikapi perbedaan tampaknya tidak dimiliki sebagian masyarakat negeri ini. Begitu miris ketika mendengar kabar dari laman berita online yang menuliskan suatu berita terkait, pemasangan pamflet MMT di suatu daerah yang berisi himbuan, “Pelarangan Perayaan Natal” di daerah tersebut. Astagfirullah, ucap pelan dalam hati ini. Bukan begitu caranya Bung, walaupun memang acara keagamaan bertentangan dengan Syariat Islam. Namun ada pula kewajiban yang perlu kita tegakkan yaitu menjaga hubungan baik antar sesama insan di bumi ini. Tak berhenti di situ, ada pula penggrebekan yang dilakukan oleh masyarakat yang mengatas namakan agama untuk melakukan penghentian aktifitas Natal yang dilakukan oleh umat Nasrani.

Perlu ditegaskan agama itu akan tetap suci dan terasa benar apabila menghadirkan kedamaian di masyarakat sekitarnya. Janganlah menjadikan agama sebagai senjata dan tameng diri agar terlihat selalu benar dan mengangkat posisi pribadi agar terlihat paling tinggi nan mulia. Kedepankan niat yang iklas untuk menebarkan kedamaian daripada mengumbar harapan baik atas nama ayat-ayat suci namun didasari nafsu untuk kepuasaan diri sendiri.

Jangan sampai perbedaan corak, warna budaya hingga macam golongan agama yang ada di tanah air kita nantinya hanya digunakan sebagai bahan mata pelajaran yang hanya sebatas sebagai ilmu formal namun hilang esensi pesan leluhur yang mesti tertanam di akal fikiran dan relung hati terdalam setiap insan Indonesia.

“Beberapa orang menghakimi lagi, walau diludahi zaman beribu kali, beberapa orang memaafkan lagi walau sudah diinjak habis bekali-kali” -ffeastt band.

Daris Jaka Almasyah
Sumber Foto : http://artikelreferensiweb.blogspot.com/2015/10/mengangkat-nilai-toleransi-yang-mulai.html?m=1