Iman Sebagai Abstraksi dari (Ke)Percaya(an), sebagai Pondasi Berpikir dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id — Kehidupan beragama kerap kali seakan dijauhkan dari hal-hal yang berbau agama(is), mulai dari memisahkan antara agama dan politik yang sebenarnya keduanya adalah pondasi dalam kehidupan tapi tak mau disebut sekuler, tentu Islam sebagai salah satu agama yang diakui oleh negara tidak jauh dari aroma tersebut. Tujuan awal dari adanya sila pertama dan sila ketiga dalam Pancasila tak lain adalah untuk mempersandingkan, bukan membandingkan, maka sudah menjadi keharusan bahwa hidup berkehidupan tak boleh lepas dari rasa nasionalisme dan perwujudan konkrit dari iman.

Menurut Soekarno, nasionalisme atau perasaan nasionalistis itu “menimbulkan rasa percaya akan diri sendiri, rasa yang mana adalah perlu  sekali untuk mempertahankan diri di dalam perjuangan menempuh keadaan-keadaan, yang mau mengalahkan kita.”

Nasionalisme secara konseptual memiliki makna yang beragam. Ada yang mengartikan nasionalisme sebagai : 1) kulturnation dan staatnation, 2) loyalitas (etnis dan nasional) dan keinginan menegakkan negara, 3) identitas budaya dan bahasa.

Nasionalisme pada dasarnya adalah prinsip politik yang memegang kuat bahwa unit politik dan nasional seharusnya kongruen. Nasionalisme dapat berbentuk sentimen maupun gerakan, sentimen nasionalisme adalah perasaan “marah” yang muncul karena pelanggaran prinsip atau perasaan “puas” akibat pemenuhan suatu prinsip. Sedangkan gerakan nasionalis adalah suatu hal yang ditunjukkan oleh sentimen perasaan itu, yang mana merupakan konkretisasi dari perasaan sentimen.

Nasionalisme patut direnungkan kembali kesesuaiannya sebagai unsur pembangkit khususnya di negeri-negeri yang mempunyai basis Muslim, hal ini disebabkan dunia barat dan Islam mempunyai standar yang khas yang berbeda dalam mengukur sesuatu. Standar barat yang lekat dengan sekulerisme adalah ketika hal tersebut bermanfaat diambil, ketika dianggap tidak bermanfaat tidak diambil sehingga sangat mudah terjadi relativitas, kebingungan dan dapat menciptakan konflik baru karena relativitas tersebut. Seyogyanya umat Islam tidak mengukur Islam dalam terminologi Barat seperti yang dilakukan oleh RAND Corp. untuk mengklasifikasikan umat Islam menjadi beberapa kelompok berdasarkan kesesuaian idenya dengan ide-ide mainstream Barat, klasifikasi tersebut yaitu: 1. Fundamentalis, Kelompok Islam yang menolak nilai-nilai demokrasi dan budaya barat. Kelompok ini menginginkan negara otoriter dan puritan yang akan mengimplementasikan pandangan ekstrim tentang aturan dan moral Islam. Kelompok ini menggunakan inovasi dan teknologi modern untuk mencapai tujuannya, 2. Tradisionalis, Kelompok Islam yang menginginkan masyarakat konservatif. Kelompok ini mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan, 3. Modernis, Kelompok Islam yang menginginkan dunia Islam menjadi bagian dari modernitas global. Kelompok ini berusaha melakukan modernisasi dan reformasi agar sesuai dengan perkembangan zaman, 4. Sekuleris, Kelompok yang menginginkan dunia Islam untuk menerima pemisahan antara negara dan agama seperti halnya demokrasi industrial barat, dengan problematika agama didudukkan dalam area privat.

Jadi jika Islam memang tidak selaras dengan konsep nasionalisme bukan berarti harus dikompromikan dan dipaksakan dengan berbagai cara agar sesuai. Apalagi Ayoob berpendapat bahwa untuk negara-negara dunia ketiga, proses pembentukan negara bangsa akan bersifat instan dan proses ini akan dipercepat oleh negara dengan membentuk suatu perasaan identitas politik baru, dengan kata lain, negara bangsa akan berusaha untuk merekayasa nasionalisme bangsanya. Rekayasa ini perlu dilakukan agar 1) legitimasi vertikal yang bersumber dari ide pembentukan negara semakin tinggi, dan 2) legitimasi horisontal yang diperlukan untuk memperkuat “kohesivitas” antarkomponen masyarakat yang dapat menghasilkan dukungan terhadap rezim yang ada.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana dengan keadaan Nasionalisme dan kehidupan agama (Islam) yang juga keduanya hidup dalam diri Indonesia sebagai bangsa dan Negara? Menurut Plamenatz, nasionalisme dunia Barat dan Timur memiliki perbedaan yang cukup kontras. Khusus untuk dunia Timur, ia mengambil contoh kasus apa yang terjadi di Balkan (yang merupakan negeri-negeri bekas wilayah peradaban Islam),

The Western type being of Risogirmento or unificatory kind, typical of the nineteenth century and with deep link to liberal ideas, while the Eastern thought he did not stress it in many words, was exemplified by the kind of nationaslis he knew how to exist in his native Balkans. There can be no doubt but that he saw theWestern nationalism as relatively benign and nice, and the Eastern kind as nasty, and doomed to nastyness by the conditions which gave to rise to it.

Hubbul Wathan Minal Iman, “cinta tanah air sebagian dari iman”, sebagaimana yang telah penulis sajikan dalam bagian pendahuluan merupakan pondasi dasar dalam berpikir mengenai bagaimana menyelaraskan dan mempersandingkan Islam dan Nasionalisme, agama dan negara.  Islam sebagai agama memiliki peran dalam mewujudkan masyarakat beradab dan bermartabat, sedangkan nasionalisme merupakan bagian penting sebagai buah atas kecintaan pada tanah air Indonesia. Perspektif mengenai pemikiran Islam, khususnya masalah etika dan esensi nilai keislaman akan menular pada sistem pergaulan sosial masyarakat Indonesia, dan hal tersebut akan mempengaruhi masa depan bangsa, dan akan dijadikan sebagai standar wawasan kebangsaan. Dewasa ini memang terus bergema wacana-wacana mengenai perbedaan dan pembedaan nasionalis-Islamis, meskipun tidak menimbulkan perpecahan dan disintegrasi, tetapi gema dikotomis antara Allahu Akbar dan “Merdeka” mengingatkan kita kembali pada perdebatan dalam rapat konstituante antara fraksi Islam dengan fraksi nasionalis tentang pemberlakuan syariat Islam (Ma’arif, 1985). Cak Nur mengatakan bahwa tidak ada lagi dikotomi antara nasionalis  dan religius (santri). Jika ada maka dikotomi ini cenderung menjadikan kelompok Islam dalam konteks pergaulan ke-Indonesiaan sering terpojokkan. Dalam kurun waktu lima puluh tahun, nuansa pembedaan Islam dan nasionalis masih dapat dirasakan. Indonesia sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari entitas-entitas yang menyerahkan kedaulatan kepada negara tentu tak dapat begitu saja melupakan peradaban dan budaya yang telah lama hidup dalam suku/entitas tersebut, dan tak juga kemudian hanya bersandar pada jumlah atau kuantitas matematis bahwa agama Islam memiliki pengikut mayoritas di Indonesia. Agar tercapainya Islam yang rahmatan lil’ allamin, semesta disini secara singkat dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat diartikan sebagai bentang wilayah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, serta individu-individu yang hidup di dalamnya. Indonesia sebagai negara dan Islam sebagai agama tentunya dicita-citakan dan memang nyatanya dapat berjalan beriringan, sebagaimana nilai “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan nilai “Persatuan Indonesia” yang menjadi tonggak semua agama yang hidup (termasuk Islam) di bumi pertiwi dapat secara selaras beriringan dengan kehidupan bernegara, bermasyarakat yang berbudaya sebagai sebuah bangsa yang utuh.

Perkembangan Islam di Indonesia yang tak lepas dari pengaruh budaya-budaya yang hidup dalam masyarakat bukan merupakan hal yang harus dikuliti, pun karena tak sedikitpun menghilangkan esensi dari Islam tersebut, terutama sejak jaman Walisongo yang mensyiarkan agama Islam sesuai dengan kehidupan masyarakat lokal. Pola komunikasi dakwah Walisongo ini bukan dalam bentuk komunikasi mengajak, namun dalam bentuk mengkomunikasikan kebudayaan baru yang memerankan tradisi lama yang telah berlangsung di Nusantara. Pola membangun dialog budaya inilah yang mempengaruhi pengertian dakwah dalam konteks ke-Indonesiaan. Hal inilah yang kemudian hidup hingga sekarang ini, dimana negara Indonesia merupakan kristalisasi dari kehidupan entitas-entitas serta kebudayaan yang telah lama ada dan hidup serta terus berlangsung di bumi Nusantara ini, sehingga selaras dengan apa yang dicita-citakan yaitu Islam yang rahmatan lil’ allamin, agar menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di dalamnya nilai-nilai luhur yang hidup di Indonesia yang mana juga layak untuk dipertahankan sebagai pondasi dasar dalam berpikir mengenai bagaimana seharusnya hidup berkehidupan di negeri ini. Dalam tataran definisi-ostensif, yang dimaksud sebagai “iman merupakan abstraksi dari kepercayaan” adalah bahwa, ketika kita sebagai umat manusia yang hidup di Indonesia dan beragama, tentu wajib percaya bahwa segala hal baik yang dilakukan akan memiliki impact yang baik, balasan yang baik, bagi diri, sekitar, bangsa dan negara. Begitu pula wajib juga percaya bahwa segala hal buruk yang dilakukan akan memiliki pengaruh buruk, balasan yang buruk, bagi diri, sekitar, bangsa dan negara. Nilai baik dan benar yang ada, merupakan hasil dari peradaban yang telah lama hidup, sehingga akan menghasilkan nilai yang nihil ketika nilai-nilai berusaha untuk dirubah dengan cara-cara yang ekstrem bahkan hingga tingkatan cara yang radikal.

Mahfud Yoga Nugroho (Ilmu Hukum, 2015)

Sumber:

  • Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi [Under the Flag of Revolution]. 1965.
  • Ernest Gellner, Nation and Nationalism, dalam Richard K, Betts, Ed,. Conflict After The Cold War: Arguments on Causes of War and Peace, New York: Macmillan, 1994, hal. 280.
  • Ita Mutiara Dewi, Nasionalisme dan Kebangkitan dalam Teropong, Mozaik Vol.3, Juli 2008.
  • Benard, Cheryl, 2003, Civil Democratic Islam: Partners, Resources and Strategies, Santa Monica: RAND Corp.
  • Andi Widjajanto, Perang Internal dalam Proses Pembentukan Negara Bangsa, Studi Kasus : Timor Lorosa’e. Jurnal Analisis CSIS Tahun XXX/2001, Nomor 1. Hlm. 54.
  • John Plamenatz, Two Types of Nationalism, dalam E. Kamenka (ed.), Nationalism, The Nature and Evolution of and Idea, London, 1973 dalam Betts, op. cit. hlm. 81.
  • Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442.
  • Atam Rustam, disampaikan dalam Halaqah Kebangsaan PCNU Kabupaten Tasikmalaya dalam rangka Harlah NU Ke 94.
  • Aswab Mahasin, Islam, Nasionalisme, dan Masa Depan Bangsa, NU.or.id. diakses pada 9 September 2018, pukul 19.16 WIB.
  • Yuliatun Tajuddin, Walisongo dalam Strategi Komunikasi Dakwah, ADDIN, Vol.8, Nomor 2, Agustus 2014.

Sumber foto: http://presidenri.go.id/berita-aktual/langkah-akademik-mengukuhkan-identitas-islam-indonesia.html