Mengenal Travel Writer dan Travel Journalist

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id —

TRAVEL WRITER

Meski tidak semua, banyak orang menganggap dirinya sebagai seorang travel blogger atau travel writer atau penulis perjalanan yang selalu terfokus pada tempat atau obyek wisata saat mereka menuliskan perjalanannya. Mulai dari yang berbentuk preview, panduan wisata singkat sampai dengan yang lengkap. Padahal, baik dalam Oxford Dictionary maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “travel” dan “perjalanan” jelas tidak merujuk pada obyek wisata, bahkan bukan pada tempat. Situs web The Free Dictionary by Farlex mendefinisikan kata “travel” sebagai “to go from one place to another” atau “the act or process of traveling”. Sementara menurut Yudasmoro dalam bukunya Travel Writer, pengertian travel writer adalah seorang penulis, jurnalis sekaligus fotografer yang mampu mendedikasikan kemampuannya mengungkap cerita-cerita tentang esensi dari sebuah perjalanan.

Menjadi seorang travel writer juga memungkinkan bertemu dengan banyak hal-hal unik, aneh, lucu, sedih, tragis, dan narasumber yang berbeda-beda sifat. Juga, selalu membuat tema-tema baru dalam liputan, menjadikannya banyak mempelajari hal baru, mulai dari sejarah, budaya, hingga jenis dan rasa makanan.

Selain itu, wisata hanyalah satu diantara sekian banyak tujuan traveling, bukan satu-satunya apalagi sebuah pakem bahwa traveling itu harus ke obyek wisata. Pun, jika merujuk pada definisi dari The Free Dictionary by Farlex di atas, inti dari “travel” atau “perjalanan” adalah sebuah proses perpindahan dari titik awal ke titik akhir dan titik tersebut bukan hanya berarti tempat, karena untuk berwisata tidak harus selalu dengan melakukan perjalanan.

Travel writer ini merupakan bagian dari jurnalisme. Sebagai bagian dari jurnalisme, tentu saja dalam penulisannya memerlukan dasar-dasar penulisan jurnalistik sebagai acuannya. Mulai dari bagaimana menentukan judul yang sesuai, kepala tulisan (Lead), tubuh tulisan, serta alur/bagaimana tulisan itu akan dibawa dan dikemas. Dan syarat untuk menjadi travel writer, yaitu orang tersebut harus melakukan perjalanan.

Ciri-ciri penulis perjalanan (travel writer) menurut Gol A Gong dalam bukunya yang berjudul Te-We (Travel Writer), antara lain :

  1. Memotret lebih banyak daripada turis;
  2. Senang berbicara dengan siapa saja;
  3. Bersemangat mencoba hal-hal baru;
  4. Ramah dan bisa bergaul dengan siapa saja;
  5. Mengambil rute yang tidak umum.

Pada prinsipnya, sebagai seorang penulis perjalanan, dedikasi utama terletak pada pengalaman yang dilakukannya. Berbagi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan tetap memperhatikan cover both side, mampu menjaga standar jurnalistik dalam karyanya adalah tolak ukur membangun kepercayaan kepada masyarakat. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan, apa yang dilihat, dan apa yang dibeli dapat menjadi pedoman agar tidak ada ketimpangan dalam substansi tulisan yang disuguhkan. Nilai kejujuran nampaknya harga yang harus dipertaruhkan kepada masyarakat sebagai pembaca karena dengan itu pembaca akan terhanyut dalam kisah yang dituliskan tersebut. Sehingga, informasi dapat tersampaikan dengan baik.

Seorang travel writer hanya menyajikan tulisan dari sudut pandangnya sendiri sebagai penulis, sehingga menimbulkan kesan bahwa tulisannya hanya sekedar ‘curahan hatinya’ saja. Hal ini didapat karena seorang travel writer lebih menekankan pada pengalaman yang ia rasakan. Dari segi foto, seorang travel writer lebih mengedepankan hasil potretan perjalanannya sebagai bukti pengalaman untuk dipublikasikan.

TRAVEL JOURNALIST

Jurnalis perjalanan atau travel journalist adalah suatu tahap atau fase kepenatan jurnalis yang belasan tahun meliput apa saja, termasuk politik, hukum, dan bencana yang kemudian berusaha untuk menemukan sudut pandang baru agar tulisannya lebih fresh dengan meliput tentang perjalanan dalam arti yang luas.

Merujuk pada artikel ilmiah karya Zulfadila Hira yang berjudul, “Jurnalisme Perjalanan dan Tanggung Jawab Terhadap Publik”, penekannya terletak pada mengangkat hakikat wisata di ruang publik. Tentu saja hal ini memberikan konsekuensi yang cukup kompleks dari apa dibayangkan. Pembahasan secara komprehensif merupakan satu dari berbagai aspek yang harus dilakukan dengan mendalam agar tujuan dari jurnalisme perjalanan ini dapat tersaji dengan baik. Lebih dalam, Folker Hanusch melalui artikelnya memaparkan signifikansi serta memformulasikan empat dimensi dari jurnalisme perjalanan, yaitu mediasi kultural, standar etika, orientasi pasar, dan aspek motivasi.

“Perjalanan” tidak harus diartikan dengan pesiar atau wisata, meskipun liputan bertema pesiar atau wisata termasuk bagian besar dari travel journalism. Perjalanan juga bisa dilakukan untuk berbagai tujuan lain, yang lebih dari sekadar berwisata atau bersenang-senang. Seperti, bertualang, mengembara, berziarah, beribadah, pencarian jati diri, dan sebagainya.

Ciri-ciri jurnalis travel, antara lain :

  1. Pertama, selalu ingin tahu.

Ini sebenarnya bukan ciri eksklusif jurnalis perjalanan. Setiap jurnalis memang diharapkan punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal. Namun, hasrat selalu ingin tahu ini perlu digarisbawahi untuk jurnalis perjalanan karena liputannya sangat tergantung pada orang, peristiwa, dan hal-hal lain yang ia temui dalam perjalanan.

  1. Kedua, suka berinteraksi, berhubungan baik, dan memiliki rasa keterlibatan dengan orang lain dari budaya, etnis, dan latar belakang yang berbeda, khususnya mereka yang ditemui dalam perjalanan. Tanpa hubungan, keterlibatan, dan cara berinteraksi yang baik, sulit bagi jurnalis untuk menggali cerita-cerita unik yang menarik dari narasumber yang mereka temui di perjalanan.
  2. Ketiga, selalu siap dan bersedia untuk mempelajari sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru, yang kurang banyak dikenal, jelas memiliki nilai berita. Suatu perjalanan akan makin tinggi nilai beritanya ketika kita menemui orang, peristiwa, dan hal-hal yang baru.

Lebih dari itu, tanggung jawab terhadap publik menjadi hal yang patut disorot karena jurnalis perjalanan memiliki peran yang besar untuk menciptakan ekspektasi publik. Destinasi wisata yang diceritakannya itu menjadi hal yang krusial agar publik merasa dekat.

Seorang travel journalist menggunakan media foto bukan sebagai hal utama dalam ‘menceritakan’ hasil perjalanannya, melainkan hanya sebagai pelengkap. Karena seorang jurnalis, dalam hal ini travel journalist menggambarkan secara detail ‘ceritanya’ pada tulisan sebagai bentuk pemberitaan yang memiliki alur yang indah. Kemudian dari segi tulisan, penyajian yang dipublikasikan seorang travel journalist tidak hanya menjelaskan dari sudut pandang dirinya sebagai penulis, tapi juga berusaha untuk mengajak pembaca agar dapat merasakan melalui tulisannya. Hal ini didapat karena tulisan yang disajikan memberikan kesan yang ‘hidup’, ini bisa ditemukan melalui penjelasan terhadap suatu obyek yang detail.

Penyebutan travel writer dan travel journalist sering kali disamakan artinya, sehingga menimbulkan tidak ada garis yang memisahkan dengan tegas diantara keduanya. Meski begitu, agar dapat membedakan dengan tegas dapat dilihat dari aspek-aspek berikut, antara lain tulisan dan foto.

Haedar Ibnu Ro’if

 

Sumber:

Gol A Gong. Te-We(Travel Writer). KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). 2012.

Sumber foto:

https://www.ed2go.com/courses/writing/writing-and-editing/ilc/travel-writing