Pasar Milas : “Mimpi Lama Sekali” mengkonsumsi makanan organik

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id —“Pasar”, Ketika kita mendengar kata pasar pasti yang ada di benak kita adalah tempat yang dipenuhi dengan pedagang sayur, buah, daging dan sebagainya. Seperti pasar pada umumnya. Namun, dipinggiran kota Yogyakarta dapat kita temukan sebuah pasar dengan konsep yang berbeda dengan konsep pasar pada umumnya. Namanya Pasar Milas. Milas sendiri merupakan akronim dari “Mimpi Lama Sekali.” Mimpi dari pada pendirinya untuk dapat mengkonsumsi makanan organik. Dengan keinginan itu awalnya mereka mendirikan Milas Resto. Restoran yang menghidangkan berbagai makanan dari bahan organik yang didirikan pada 2014 lalu. Pasar yang menawarkan sayuran, bahan makanan organik, serta beberapa makanan olahan dari bahan organik.

Pasar Milas dapat dengan mudah ditemukan. Dari Bank BNI yang terdapat di Jl. Parangtritis belok ke kiri, dari situ jaraknya sekitar 500 meter. Pasar Milas tidak memiliki papan nama, namun di temboknya terdapat tulisan Pasar Milas. Di tembok dan gerbangnya terdapat keterangan mengenai hari dan jam bukanya. Pasar buka setiap hari Rabu dan Sabtu, dari jam 10.00-13.00.

Pasar Milas terletak di gang yang tidak terlalu luas, sehingga apabila Anda berkunjung kesana ­disarankan menggunakan kendaraan roda dua, karena tidak ada tempat parkir khususnya. Namun, pembeli dapat parkir di depan tembok Pasar Milas.

Dari gerbang masuk, kita akan disambut dengan senyum hangat dari para pedangan. Pedangan yang berjualan disana jumlahnya ada delapan pedagang. Setiap pedangan memiliki spesialisasi barang dagangan yang berbeda-beda. Ada yang khusus menjual sayuran organik, bahan makanan organik seperti beras organik, dan lainnya menjual makanan serta minuman olahan dari bahan organik. Jumlah pedagang yang sedikit membuat kita dapat berinteraksi dan mengobrol dengan pedagang sambil berbelanja.

Meskipun penjualnya tidak banyak, namun pasar ini memiliki pembeli yang banyak. Kebanyakan pembelinya merupakan warga asing yang telah menetap di Indonesia. Mereka biasanya telah berlangganan untuk berbelanja sayuran maupun makanan olahan organik di sana. Beberapa diantara pembeli malah sudah ada yang mengenal satu sama lain. Sapaan khas warga asing dengan “cium pipi kanan cium pipi kiri” juga mereka lakukan di sana. Namun karena telah lama menetap di Indonesia, mereka telah fasih berbahasa Indonesia ketika berinteraksi dengan pedagang disana.

Makanan olahan yang dijual disana merupakan makanan khas Indonesia yang diolah dengan bahan organik. Seperti halnya ditemukan nasi goreng yang terbuat dari ketela pohon. Tidak seperti nasi goreng pada umumnya yang terbuat dari beras, pedagang sengaja tidak menggunakan beras dan memilih menggunakan ketela pohon karena menurutnya ketela pohon lebih sehat daripada beras. Meskipun cara membuatnya lebih rumit, yaitu dengan mengukus ketela pohonnya, lalu menjemurnya, setelah kering lalu ketela pohon tersebut ditumbuk, setelah ditumbuk lalu dikukus, lalu diolah dengan bumbu nasi goreng.

Kita dapat menemukan juga lemet, nasi jinggo, mie oklok khas Wonosobo, dan Soto Banjar di sana. Meskipun menunya merupakan makanan khas Indonesia dan tentunya dengan bumbu rempah yang banyak, namun makanan tersebut sangat digemari oleh warga asing yang berkunjung ke sana.

Ada juga pedagang yang khusus menjual daun-daunan yang sulit dicari seperti rukola, daun basil, daun mint, dan daun ginseng. Selain itu juga ada tempe dan tahu organik yang dibuat dari kedelai petani lokal.

Beberapa pedagangnya juga merupakan warga asing yang telah lama tinggal di Indonesia, seperti pedagang yang menjual selai dari buah-buahan dan roti bebas gluten.

Meskipun sayuran maupun makanan yang dijual merupakan makanan organik, namun harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Untuk satu porsi makanan olahan dari bahan organik, seperti mie oklok, dijual dengan harga Rp.10.000. Untuk segelas minuman jus sayuran dijual dengan harga Rp. 13.000.

Anda dapat menikmati berbagai jajanan yang dijual di saung-saung yang tersedia maupun di meja kursi kayu yang terletak ditamannya. Suasanya sangat sejuk karena tempatnya dikelilingi oleh pepohonan dan tanaman-tanaman hijau.

Namun bila anda ingin membawa pulang barang belanjaan berupa sayuran maupun makanannya. Jangan lupa membawa kantung belanjaan maupun tempat makan sendiri. Karena disana tidak disediakan. Pedagang tidak menggunakan kantung plastik maupun barang lain yang tidak dapat diurai maupun di daur ulang. Bahkan bila Anda memesan es kelapa, Anda akan diberikan potongan batang daun pepaya sebagai pengganti sedotannya.

Stefani Yulin

Sumber foto:

https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g294230-d3155222-i143515678-Milas_Vegetarian-Yogyakarta_Java.html