Perkuat World Class University, Undip Kembali Tambah Guru Besar

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id – Sabtu (9/9) bertempat di Aula Prof. Ir. Soemarman Kampus Undip Pleburan, telah dilakukan Pengukuhan Guru Besar Universitas Diponegoro. Pada Rapat Senat Akademik Terbuka ini ada dua guru besar yang dikukuhkan, yakni Prof. Dr. Eko Soponyono, S.H., M.H. dari Fakultas Hukum (FH) dan Prof. Ir. Muslim, M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).

Prof Sunarso selaku Ketua Senat Akademik Undip menjelaskan bahwa saat ini Undip telah memiliki 108 guru besar, empat di antaranya berstatus sebagai dosen tidak tetap, sementara sisanya berstatus aktif. Selanjutnya, Prof Eko  merupakan dosen pertama yang akan dianugerahi sebagai guru besar yang memiliki Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK), hal ini dikarenakan dedikasi Prof Eko yang sangat besar terhadap kampus walaupun sudah berusia lanjut.

Prof Eko membawakan orasi ilmiah yang berjudul “Hikmah Al Qur’an dalam Pembaharuan Hukum Pidana Demi Mewujudkan Keadilan Religius”. Dalam orasinya ia menjelaskan hal yang memotivasi ia mengangkat tema ini adalah Quran Surah An-Nisa ayat 135. Suart An-Nisa ayat 135 adalah salah satu dari 3 tulisan tentang konsep keadilan yang terpampang di pintu masuk Harvard Law School. Dua tulisan lainnya yaitu dari Agustino Hippo dan Magna Carta. Hal ini yang memotivasi Prof Eko agar hasil penelitiannya dapat dijadikan referensi sebagai penyusunan RUU KUHP yang baru.

“Dalam KUHP yang selama ini kita pakai, kita hanya mengenal asas legalitas formal saja, jadi pengesahan suatu perbuatan menjadi tindak pidana. Namun, dalam RUU KUHP asas legalitas tidak hanya bersifat formal, tapi juga bersifat material yang tersirat mengandung nilai-nilai hikmah Al Qur’an yang diantaranya adalah akhlak mulia, permaafan, dan keadilan religius”, jelas Prof Eko.

Lebih lanjut beliau menjelaskan mengenai akhlak mulia yang hidup di dalam masyarakat. Maka hukum yang berlaku di masyarakat adalah prinsip-prinisp umum yang diakui oleh bangsa-bangsa. Mengenai permaafan ia merekomendasikan dimasukannya permintaan maaf oleh pelaku sebagai pidana tambahan dalam Pasal 68 RUU KUHP. Namun, dalam perbuatan yang dikategorikan sebagai “dosa sosial” seperti korupsi yang sekarang marak dilakukan, selain harus mengembalikan uang negara, para koruptor juga harus tetap meminta maaf karena telah mendzolimi rakyat Indonesia. Terakhir mengenai keadilan religius dapat dianalogikan sebagai seorang hakim dalam mengadili suatu perkara pidana, mempertimbangkan hukum dan keadilan namun apabila keduanya bertentangan dapat mengutamakan keadilan.

Pada penghujung orasi Prof Eko mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya hingga ia bisa mendapatkan gelar Guru Besar Hukum Pidana. Air mata Prof Eko pun tidak terbendung disela-sela ia mengucapkan terima kasih. “Jabatan akademik tertinggi ini saya persembahkan kepada almarhum bapak dan almarhumah ibu saya dan kepada adik saya Nooryanti dan Dwinyoto (alm). Terima kasih pula kepada Prof. Soedarto karena berkatnya saya bisa menjadi dosen FH pada 1978. Selanjutnya kepada Prof Muladi dan Prof Barda berkat bimbingan beliau berdua saya dapat menyelesaikan S2, S3, hingga mendapatkan gelar guru besar”, ucapnya di akhir orasi.

Sementara, Prof Muslim membawakan orasi ilmiah yang berjudul “Radionuklida (Nuklir di Laut): Sumber, Distribusi, dan Dampaknya Bagi Kehidupan”. Prof Muslim menjelaskan bahwa penelitian tentang nuklida di Indonesia masih sedikit, padahal Indonesia memiliki potensi laut yang besar yakni 70% dari luas wilayahnya. Walaupun Indonesia belum mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir namun tetap tidak boleh lengah, ‘baseline‘ data tentang radionuklida harus punya. “Sebenarnya nuklir jika diolah dengan benar tidak akan membahayakan lingkungan”, ungkapnya di akhir orasi.

Prof Yos Johan Utama selaku Rektor Undip dalam sambutannya berharap dengan bertambahnya guru besar akan membuat sistem pendidikan di Undip semakin berkualitas. Undip menargetkan pada  2017 bisa menambah daftar guru besar. “Tahun ini Undip mengajukan 14 guru besar baru ke Kemenristekdikti, namun baru 5 orang yang disetujui”, tambahnya.

Rapat Senat Akademik terbuka ini berakhir tepat pukul 12.00. Diakhir acara seluruh hadirin mengucapkan selamat kepada Prof Eko dan Prof Muslim. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan makan siang bersama antara pejabat Undip, serta seluruh guru besar di Lantai 5 Gedung Pascasarjana Undip.

 

Serin Putriningtyas

Foto LPM GK