Studi Komparatif: Hukuman Mati dalam Perspektif HAM dan Hukum Islam

lpmgemakeadilan.fh.undip.ac.id – Kamis (7/9), UPK Kelompok Studi Hukum Islam (KSHI) mengadakan studi komprehensif mengenai hukuman mati dalam perspektif HAM dan Hukum Islam. Acara yang diselenggarakan di Ruang 302 Gedung Prof. Satjipto Rahardjo ini turut mengundang H.M. Kabul Supriyadhie, S.H., M.H. dan Mas’ut, S.Ag.,M.Si. sebagai pembicara. Keduanya merupakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Acara ini dimoderatori oleh Adnan Ginanjar.

Acara dimulai pada 16.16 WIB yang dibuka oleh MC lalu dilanjutkan dengan Tilawah Quran oleh Khanif. Selanjutnya, sambutan dari Ketua Panitia, Ratrie Mardiyan S dan sambutan dari Amanda Herditiya D, mewakili Ketua KSHI yang berhalangan hadir. “Dengan diadakannya acara ini diharapkan kita dapat mengetahui bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang masih menerapkan hukuman mati serta bagaimana HAM dan Hukum Islam memandang hukuman mati.”

Pembicara pertama, yaitu H.M. Kabul Supriyadhie, S.H., M.H. membahas mengenai hukuman mati dalam perspektif HAM. Beliau mengemukakan mengenai pengertian, penghormatan, penegakkan, pemajuan, dan pemenuhan HAM. Menurut UU Nomor 39 Tahun 1999 bahwa HAM adalah hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, Oleh karena itu, harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun. Hak asasi manusia tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun (non-derogable rights), baik oleh negara, pemerintah, orpol, ormas, badan hukum, maupun orang perorangan, khususnya dalam hak hidup. Merujuk pada pernyataan tersebut, hak hidup diatur dalam Pasal 28A (1) UUD NRI Tahun 1945. Dengan adanya hak hidup ini melahirkan kewajiban negara untuk memberikan hak hidup bagi warganya. Terdapat beberapa alasan pemohon judicial review ke Mahkamah Konstitusi mengenai hukuman mati, yaitu:

  1. Hukuman mati bertentangan dengan hak untuk hidup (Pasal 28A (1) UUD NRI Tahun 1945).
  2. Hukuman mati bertentangan dengan Pasal 28I (4) UUD NRI Tahun 1945.
  3. Instrumen HAM Internasional menghendaki penghapusan hukuman mati.
  4. Kecenderungan dunia internasional menghendaki penghapusan hukuman mati.
  5. Hukuman mati bertentangan dengan filosofi pemidanaan Indonesia (Lembaga Pemasyarakatan).
  6. Diragukan efek jera hukuman mati dalam menurunkan jumlah tindak pidana.

Menurut H.M. Kabul Supriyadhie, S.H., M.H., negara-negara yang masih menerapkan hukuman mati diharapkan dapat pelan-pelan mengurangi penjatuhan hukuman mati bagi terpidana, karena hukuman mati bertentangan dengan hak hidup yang dimiliki seseorang.

Mas’ut, S.Ag.,M.Si. sebagai pembicara kedua membahas mengenai hukuman mati dalam perspektif Hukum Islam. Hak hidup seseorang dijelaskan dalam hadist Rasulullah “Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu haram atas kamu” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Alquran Surat Al-Maidah : 32 menerangkan “Barangsiapa yang membunuh seseorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya”. Bicara masalah hukuman mati dalam Islam sebenarnya sudah diatur sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam kitab suci Alquran yang dikenal dengan jarimah qishash. Agama Islam tidak melarang dan mengharamkan adanya hukuman mati sebagai hukuman terberat bagi terpidana. Ini dibuktikan adanya negara-negara yang berlandaskan Alquran melaksanakan hukuman mati, seperti Arab Saudi. Jika hukuman selain hukuman mati masih dapat dijalankan, hukuman mati menjadi pilihan terakhir yang dilaksanakan untuk terpidana. Hal ini karena agama Islam menghargai nyawa setiap umat manusia. Oleh karena itu, Islam menekankan perlu adanya kehati-hatian dalam menetapkan hukuman mati bagi seseorang. Hal ini sesuai dengan kaidah Hukum Islam yang ditetapkan para ulama ahli hukum yang berbunyi “Lebih baik salah tidak memberikan hukuman mati, daripada salah memberi hukuman mati”.

Moderator menyimpulkan bahwa hak hidup adalah hak yang paling mendasar dan melekat pada diri setiap manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun yang tertuang dalam UU Nomor 39 Tahun 1999. Agama Islam tidak melarang dan mengharamkan adanya hukuman mati sebagai hukuman terberat bagi terpidana. Akan tetapi, perlu adanya kehati-hatian dalam menetapkan hukuman mati bagi seseorang karena agama Islam menghargai nyawa setiap umat manusia.

Acara ini selesai pada 18.08 WIB dan ditutup dengan adanya pemberian plakat kepada pembicara dan pemberian doorprize bagi penanya terbaik, yaitu Sahel dan Hendri.

 

Rizka Puspitasari dan Rizky Mutiarasari